ALL Pendidikan

Menuju UGM yang Ramah Difabel

Val
Written by Val

Dalam penerimaan dan layanan terhadap mahasiswa, UGM masih melakukan deskriminasi terhadap kaum difabel. Perjuangan terhadap persamaan hak di lingkungan kampus terus dilakukan oleh UKM UGM Peduli Difabel. Mukhanif Yasin Yusuf, salah satu pendiri UKM itu, menyatakan bahwa upaya mereka menghasilkan sejumlah perbaikan, salah satunya mahasiswa difabel bisa diterima di klaster sosio humaniora, meski Fakultas Ekonomika dan Bisnis masih belum berubah.

Hanif (baju hitam sebelah kiri) bersama anggota UKM UGM Difabel melakukan audiensi terkait isu difabel di UGM bersama dengan pihak rektorat. (dok. www.ugm.ac.id)

Hanif (baju hitam sebelah kiri) bersama anggota UKM UGM Difabel melakukan audiensi dengan pihak rektorat UGM. (dok. www.ugm.ac.id)

Geliat UKM UGM Peduli Difabel ini didasari dari adanya fenomena kesenjangan di dunia pendidikan antara kaum difabel dan yang bukan difabel. Menurut Hanif, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2011, jalur masuk di UGM masih mendiskriminasikan kaum difabel, terbukti dengan adanya lima syarat tidak boleh cacat di beberapa fakultas.

UGM memang belum melakukan pendataan secara rinci terkait jumlah mahasiswa yang difabel. Namun berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh UKM Peduli Difabel, sebanyak 16 hingga 30 mahasiswa di setiap angkatan menyandang disabilitas.

Salah satu fasilitas bagi kaum difabel di Fakultas ISIPOL UGM. Trem ini menurut UKM UGM Peduli DIfabel masih terlalu sempit dan terlalu curam untuk digunakan.

Salah satu fasilitas bagi kaum difabel di Fakultas ISIPOL UGM, fakultas yang paling ramah difabel. Meski demikian, menurut UKM Peduli Difabel, trem tersebut masih terlalu sempit dan curam.

Untuk sarana dan prasarana, menurut Hanif, UGM belum memberikannya secara merata dan sungguh-sungguh. Baru beberapa gedung fakultas yang memiliki aksesibilitas bagi kaum difabel. Misalnya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, yang sudah cukup ramah bagi difabel. Saat pembangunannya pun beberapa perwakilan UKM UGM Peduli Difabel diajak untuk berkontribusi dan mencoba sarananya.

Namun untuk fakultas lain, terutama untuk klaster Sains, belum banyak yang askesibel bagi kaum difabel. Berdasar pengamatan UKM UGM Peduli Difabel, sebanyak 80 persen gedung di UGM belum aksesibel, padahal berdasarkan Perda No. 4 tahun 2012 semua bangunan yang diperbarui di Yogya harus aksesibel bagi kaum difabel dan harus universal design.

Langkah yang dilakukan Hanif dan rekan-rekannya dalam UKM Peduli Difabel memang tidak serta merta mengubah segalanya. Namun ada hasil yang bisa dipetik, misalnya di klaster sosio humaniora, tidak ada lagi syarat mahasiswa yang difabel tidak bisa diterima. Sayangnya masih terkecuali untuk Fakultas Ekonomika dan Bisnis, meskipun sudah dilakukan FGD dan audiensi dengan pihak fakultas. Menurut Hanif pihak FEB masih terpaku dengan teknis pembelajaran hingga tidak mampu menerima mahasiswa difabel. Padahal di Permendikbud sudah terdapat aturan-aturan terkait hal tersebut.

UKM UGM Peduli Difabel pun tak melulu menampung anggota yang mengalami disabilitas, namun juga anggota lain yang terpanggil untuk aksi kemanusiaan. UKM UGM Peduli Difabel kini telah progresif menjalankan berbagai aksi demi memperjuangkan hak-hak kaum difabel di lingkungan kampus. Mereka juga membantu para non difabel untuk semakin peka rasa sosialnya terhadap kaum difabel misalnya dengan adanya pelatihan bahasa isyarat.

“Memfasilitasi kaum difabel memang harus tahu dan paham soal difabel. UGM memang belum mengakomodasi aksesibilitas bagi difabel tetapi sudah ada niat,” ungkap Hanif. Memang di tengah situasi minoritas difabel, mewujudkan hak-hak difabel tak semudah hanya dengan melakukan audiensi dan membuat berbagai tulisan.

Upaya Hanif Menuju UKM Peduli Difabel

Keterbatasan di indera pendengaran tak lantas membuat Hanif menjadi kecil dan lemah. Ia tetap ingin melanjutkan hidupnya layaknya kehidupan tanpa adanya keterbatasan. Untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, Hanif sangat memerhatikan dengan saksama bahasa bibir. Ia bisa membaca ucapan orang melalui gerakan bibir dan mimik wajah yang ditampilkan. Hanif sangat bersyukur, meskipun indera pendengarannya tak sempurna, ia masih dianugerahi indera lain yang dapat menggantikan tugas indera pendengarannya.

Dalam kesunyiannya, Hanif sering membuat tulisan, yang salah satunya kemudian mendapat tanggapan positif dari banyak pihak. Berawal dari kegelisahan dan dambaan inklusif bagi kaum difabel, tulisannya dimuat di Surat Kabar Mahasiswa Bulaksumur pada Desember 2011, yang kemudian memantik terbentuknya UKM UGM Peduli Difabel.

Mengubah stigma dan mengubah mental difabel di mata masyarakat sekitar memang butuh proses. Buah pemikiran dari kesunyian dunia milik Hanif ini justru menjadi tonggak perubahan yang sangat signifikan terhadap kaum difabel di lingkungan UGM. Bersama dengan beberapa rekan pada April 2012, Hanif memulai gerakan secara serius dengan terlibat dalam seminar, audiensi dengan pihak rektorat, dan perjuangan perlindungan difabel lainnya. Hingga pada Juni 2013, terbentuklah Unit Kegiatan Mahasiswa UGM Peduli Difabel.

Hanif (bawah nomor dua dari kiri), menunjukkan prestasinya dengan menjadi mahasiswa berprestasi perwakilan dari Fakultas Ilmu Budaya UGM. (dok. www.ugm.ac.id)

Hanif (bawah nomor dua dari kiri), menunjukkan prestasinya dengan menjadi mahasiswa berprestasi dari Fakultas Ilmu Budaya UGM. (dok. www.ugm.ac.id)

Di samping kegiatan dalam UKM Peduli Difabel, anak kiai dari kampung kecil di Purbalingga ini juga menumpahkan buah pikiran dalam torehan tulisan yang dapat dibaca dalam novel “Jejak Pejalan Sunyi”. Kini mahasiswa Sastra Indonesia yang pernah menyandang mahasiswa berprestasi FIB UGM ini sedang berjuang juga untuk menyelesaikan skripsinya.

About the author

Val

Val

Komunikasi UGM 2013
13/345987/SP/25601