ALL Hotel

Berapa Sebenarnya Kebutuhan Kamar Hotel di Yogya?

Sejumlah kamar di Hotel Jogja Plaza ramai pengunjung terutama pelajar dan mahasiswa. Hal itu dikarenakan Jogja Plaza menjadi home stay bagi peserta dan juri Olimpiade Sains Nasional pada Kamis (22/05) @Lamia/Tersapa
Lamia Putri
Written by Lamia Putri

Jumlah kamar  hotel di Kota Yogyakarta saat ini diduga telah melebihi permintaan. Namun, pembangunan hotel masih terus berlangsung sekalipun pemberian izin pembangunan hotel baru di Kota Yogyakarta telah dihentikan.

Hal ini menimbulkan tanda tanya mengenai optimalisasi kebutuhan kamar hotel di Yogyakarta. Kajian mengenai kebutuhan kamar hotel di Yogyakarta seharusnya memerlukan koordinasi yang baik dari industri, pemerintah, dan PHRI. Sayangnya, hasil kajian mengenai kebutuhan kamar hotel oleh berbagai lembaga itu berbeda-beda. Selain itu, terdapat berbagai faktor yang menyulitkan kajian itu.

"Hotel Ibiss di Malioboro selalu ramai. Maka dari itu, banyak investor yang tertarik membangun hotel di sekitar Malioboro," jelas Istidjab.

“Hotel Ibiss di Malioboro selalu ramai. Maka dari itu, banyak investor yang tertarik membangun hotel di sekitar Malioboro,” jelas Istidjab. @Lamia/Tersapa

 

Pembangunan Hotel di kawasan Pasar Kembang.   Terlihat jendela kamar hotel yang cukup banyak.

Pembangunan Hotel di kawasan Pasar Kembang. Terlihat jendela kamar hotel yang cukup banyak.

Salah satu kesulitan itu adalah tidak stabilnya tingkat hunian yang diukur dari lama tinggal wisatawan. Menurut Sigit Setiadi, Staf Promosi, dan Pengembangan Pariwisata, rata-rata wisatawan asing hanya tinggal beberapa hari saja. “Kunjungan memang naik, tetapi lama tinggal hanya satu hari. Artinya tingkat hunian hotel tidak naik karena dalam sehari itu pasti ada tamu lagi,” jelas Sigit.

Istidjab pun menanggapi lama waktu tinggal wisatawan juga disebabkan oleh program pemerintah yang tidak memosisikan kota Yogyakarta sebagai tujuan utama. Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta hanya sebagai tempat wisata tambahan ketika mereka berkunjung ke Bali atau Jakarta. “Wisatawan itu cuma mampir saja. Mungkin hanya menginap di hotel sehari atau bahkan tidak menginap sama-sekali dan langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi utama,” jelas Istidjab.

Sementara itu, Istidjab M. Danunagoro, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY, mengkhawatirkan adanya perang tarif antarhotel. Pasalnya, jumlah kamar saat ini telah melebihi permintaan. “Belum lagi pembangunan hotel masih terus berlangsung hingga kini. Padahal, jumlah kamar hotel saat ini sudah cukup,” kata Istidjab.

Hal tersebut diperkuat oleh data Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Yogyakarta tahun 2012 yang menerangkan bahwa dalam 20 tahun ke depan, jumlah kamar hotel ditargetkan mencapai 15.000 kamar. Namun, faktanya, kini sudah ada lebih dari 25.000 kamar di Yogyakarta.

Akan tetapi, Herni Hariadi, Staf Informasi Turis Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta berpendapat lain. Ia mengatakan bahwa laju pembangunan hotel tidak terlepas dari kebutuhan wisatawan akan kamar. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Nur Hidayat, Staf Standarisasi Hotel Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DIY. “Kalau hotel-hotel masih dibangun, berarti kan masih ada permintaan kamar?” jelasnya.

Permintaan kamar hotel itu juga tidak diimbangi dengan kenaikan jumlah wisatawan. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta kenaikan wisatawan tahun 2014 mencapai 17,90 %. Dari pencapaian tersebut, wisatawan domestik mencapai 2.733.805 dari total jumlah wisatawan, 3.007.253. Jumlah wisatawan sebesar itu itu pun kebanyakan berasal dari (Meeting Intensive Conference Event) untuk kegiatan rapat.

Menanggapi hal tersebut, Destha, Peneliti Pusat Pariwisata (Puspar) UGM pun berpendapat bahwa pemerintah harus betul-betul melakukan riset terkait dengan kebutuhan kamar hotel di Yogyakarta. Untuk mengetahui riset kebutuhan kamar, Pemerintah harus bekerja sama dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). “Peran industri dari PHRI seharusnya menjadi rekomendasi pemerintah sehingga perhitungan pertambahan hotel di Yogyakarta layak atau tidak untuk ditambah,” jelasnya.

Sayangnya, kajian riset mengenai kebutuhan kamar hotel oleh berbagai institusi tidak dapat dipukul sama rata. Hal tersebut diungkapkan oleh Sigit karena metode yang digunakan dalam pengambilan sampel berbeda. “Kajian Hotel di Kota Yogyakarta tidak bisa disamakan dengan data PHRI. Soalnya PHRI  sendiri berada di tingkat DIY,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Sigit, tidak semua hotel tergabung dalam PHRI. Hotel-hotel yang tergabung dalam PHRI kebanyakan hotel bintang lima. Hal tersebut tentunya menyulitkan survei hotel-hotel non bintang. Dalam hal ini, Ia menjelaskan, sebenarnya terdapat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang juga mengkaji kebutuhan kamar hotel. Namun, lagi-lagi data tersebut tidak dapat dikomparasikan dengan Dinas Pariwisata Kota Yogayarta. Sebab, BPS dan Dinas Pariwisata memiliki metode yang berbeda. “Dari pengambilan sampel saja sudah berbeda. Kita menggunakan 70 hotel sedangkan BPS kurang dari 20 hotel. Padahal ada sekitar total  400 sekian hotel,”  jelas Sigit.

Dinas Pariwisata sendiri, menurut Sigit beperan dalam menghitung jumlah wisatawan, jumlah hotel, jumlah kamar, dan  jumlah lama tinggal. Data-data ini dibutuhkan untuk mengkalkulasi penambahan hotel atau tidak. Riset data tersebut nantinya akan dilakukan oleh Badan Pembangunan Daerah (Bapeda) dan dieksekusi Walikota. “Tentunya dengan masukan-masukan dari berbagai pihak. Kemudian yang membuak keran investasi dari Dinas Perizinan,” papar Sigit.

Saat ini,  terdapat 104 izin baru dan 78 di antaranya telah diterbitkan dan 30 hotel sedang dalam proses pembangunan. Melihat itu, Istidjab menanggapi bahwa pembangunan hotel boleh dilakukan selama masih ada permintaan kamar. Pasalnya, keseimbangan antara permintaan dan penawaran jumlah kamar belum terjadi. Ike Janita Dewi, Ketua Tim Peneliti Dampak Kajian Perhotelan pun berpendapat, keseimbangan itu baru akan terjadi pada tahun 2019. “Perhitungan itu pun dapat meleset ketika pengajuan hotel sebelum moratorium banyak disetujui,” jelasnya.

 

About the author

Lamia Putri

Lamia Putri

Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UGM 2013 (13/345745/SP/25566)