ALL Seni Tradisional

Upacara Adat di Desa Wisata Taruban

Pagi itu cuaca cerah, warga Desa Taruban, Kulon Progo memadati halaman Dukuh Taruban Wetan. Para bergada atau prajurit telah siap dalam barisan, pelaksanaan kirab segera dimulai. Hari itu (10/05) merupakan hari istimewa karena warga akan mengadakan upacara adat bersih desa dan nadzar, berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Pengajian sebagai rangkaian pembuka upacara adat dilakukan pada Jumat (8/05) malam. Acara ini menghadirkan Imam Syafe’i dari Pengasih Kulon Progo. Kemudian pada hari kedua dilaksanakan Tari Tayub. Enam pemudi desa menarikan tari tayub dihadapan wakil bupati dan tokoh adat. Seusai tari tayub, tokoh adat menyampaikan nazar, sejak pukul 22.00 WIB hingga dini hari pukul 03.00 WIB.

Puncak acara terdiri dari pelaksanaan kirab, pengambilan air suci di Sendang Kamulyan, ziarah makam Ki Jaka Tarub, dan kenduri serta penyerahan air suci kepada Pedukuhan Taruban. Selanjutnya sebagai penutup, dilaksanakan pagelaran wayang kulit yang mengisahkan “Sri Boyong” sri bermakna padi dan boyong berarti membawa pulang.

“Dulu, upacara ini hanya pengambilan air di Sendang Kamulyan dan ziarah makam. Saat ini ada penambahan kirab.  Setelah acara penutup, ada pagelaran Wayang Kulit dan pentas 20 kelompok kesenian seperti jathilan klasik, reog, dan yang lainnya. Kami harap masyarakat sungguh siap untuk menjadi desa wisata,” kata Zulkarnaen (55), panitia pelaksana upacara adat.

Saukhi (40), warga Taruban, berkata, “Upacara adat dapat mengenalkan Desa Taruban sebagai desa wisata dan budaya kepada masyarakat luas. Sebagai manusia Jawa, jangan sampai kita lupa akan filosofi manusia Jawa. Nilai-nilai ini telah ada sejak leluhur. Upacara adat tidak hanya membersihkan desa, namun juga jiwa kami. Kami diingatkan kembali untuk menyucikan diri dan mensyukuri nikmat berupa panen padi.”

Namun, Suwan (58), wisatawan yang menyaksikan upacara adat tersebut, menyayangkan kurangnya infrastruktur pendukung sebagai desa wisata.

“Akses jalan menuju wilayah ini cukup sulit, hampir setiap ruas jalan terdapat lubang. Selain itu penerangan listrik di jalan masih kurang, hal ini patut diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat mengingat masih jarang rumah dan banyak hutan jati di wilayah sini. Terlepas dari itu semua, saya senang karena dapat mengetahui tradisi dan budaya masyarakat setempat.”

Zulkarnaen mengakui kurangnya hal tersebut, menyatakan bahwa Desa Taruban masih belum siap menjadi desa wisata “Kami masih terkendala infrastruktur dan kesiapan masyarakat. Kondisi jalan  masih rusak parah. Selain itu, upacara adat ini tidak dapat kami ajukan proposal agar menjadi kalender event pemerintah. Ini karena upacara adat mengikuti musim panen sehingga tidak dapat ditentukan secara pasti,” katanya.

About the author

nadzifah

nadzifah