ALL Tata Kota

Warga Bantaran Kali Code Menunggu Perbaikan Talut

Kondiri lingkungan rumah warga di bantaran Kali Code saat ini
Wita
Written by Wita

Hujan deras yang melanda Yogyakarta April lalu mengakibatkan talut sungai rusak dan lima rumah warga RT 40, RW 10 di pinggir Kali Code mengalami keretakan. Hingga saat ini, warga baru melakukan perbaikan sementara terhadap talut yang rusak. Mereka mengharapkan pemerintah segera memperbaiki talut secara permanen.

Sutarmi, warga yang terkena dampak banjir Kali Code, mengatakan, “Tanah di sekitar rumah menjadi rawan longsor. Kondisi pondasi rumah mulai terlihat retak-retak meskipun baru saja diperbaiki. Saat ini belum ada bantuan dari pemerintah, sehingga untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan warga melakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi tanah longsor.”

Bahan-bahan material yang didapatkan belum sepenuhnya mengurangi kerusakan akibat banjir. “Untuk pertahanan pondasi tanah, kami menggunakan bahan material seperti batu krikil dan timbunan pasir. Bahan-bahan tersebut dibeli dengan menggunakan uang pribadi dan iuran warga setempat. Jika tidak segera dilakukan, talut dan beberapa rumah warga yang rawan tidak bisa diselamatkan,” ujar Sutarmi.

Hal yang sama diungkap Rohani, warga RT 40 RW 10 ini mengatakan,“Karena rumah saya memiliki pondasi rendah, pada saat banjir air dari Kali Code sempat masuk ke dalam. Akibat talut yang miring, kami tidak bisa menahan air yang masuk. Hal ini membuat rasa kekhawatiran keluarga saya. Saya berharap pemerintah segera memperbaiki talut yang miring tersebut.”

Menanggapi permintaan warga bantaran Kali Code, Kepala Bidang Permukiman Dinas Kimprasil Kota Yogyakarta, Hendra Tantular mengatakan “Kami memahami dan mengerti kemauan warga setempat untuk segera memperbaiki talut yang miring tersebut. Akan tetapi, untuk memperbaikinya kami membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tidak hanya di Kali Code, perbaikan juga terjadi di beberapa titik yang rawan bencana. Kalau kami memperbaiki semua itu, kami hanya bisa menggunakan dana insidental sekitar 1,5 Miliar dan dibagi ke beberapa titik. Oleh karena itu, kami mengharapkan warga bisa mengerti keadaannya. Jika sudah menerima dana, pemerintah akan langsung memperbaiki talut tersebut,” kata Hendra

Upaya yang dilakukan pemerintah pada saat kejadian tersebut antara lain dengan menurunkan personel tanggap darurat bencana, BPBD. Kepala seksi kedaruratan dan logistik BPBD, Herry Eko Prasetyo mengatakan, “Pemerintah tidak hanya tanggap darurat bencana melainkan pencegahan dan siap siaga bencana. Di Kali Code, persiapan yang dilakukan pemerintah ialah menyediakan pos pemantauan. Pos ini telah berdiri sejak lama dan diberi nama Pos satu. Pos satu berfungsi untuk memantau aliran air di sungai, selain pos satu terdapat teknologi Early Warning System (EWS).”

“Early Warning System merupakan alat pemantau aliran air di sungai. Jika terjadi banjir alat tersebut akan berbunyi untuk memperingatkan warga agar bersiap menghadapi banjir. Pada saat kejadian di Kali Code, sirine tersebut tidak menyala. Sirine yang tidak berbunyi dikarenakan warga sekitar telah memindahkan alat tersebut ke tempat lain tanpa sepengetahuan pemerintah. Akibat dari pemindahan tersebut, beberapa kabel EWS putus sehingga membuat sirine tidak menyala.” kata Herry

Menurut Herry, hal-hal yang dilakukan BPBD ialah penanganan yang bersifat sementara. “Terkait dengan bencana banjir di Kali Code, ada beberapa infrastruktur yang sudah rapuh seperti talut. Sehingga ketika terkena banjir, talut ambruk dan merusak tanah di sekitar rumah warga.”

About the author

Wita

Wita