ALL Transportasi Publik

Wisata Malam yang Krisis Angkutan Umum

Bertambah larut, Jalan Jogja Solo maupun sebaliknya semakin dipenuhi oleh banyaknya kendaraan pribadi
Bertambah larut, Jalan Jogja Solo maupun sebaliknya semakin dipenuhi oleh banyaknya kendaraan pribadi

Selepas pukul sembilan malam, motor dan mobil pribadi yang diparkir di pinggir jalan semakin menyemut memenuhi kawasan Tugu hingga Titik Nol Kilometer. Di tengah keramaian itu, angkutan umum sudah tidak lagi beroperasi.

Beberapa tahun terakhir ini, wisata malam di DIY semakin menjadi salah satu tujuan utama. Sebut saja angkringan, kopi jos, Bukit Bintang, dan Taman Lampion Monjali. Itu belum termasuk tempat-tempat yang memang sudah menjadi ciri khas seperti Tugu, Titik Nol Kilometer, Alun-Alun Utara dan Selatan, serta Jalan Malioboro. Semakin larut maka semakin banyak wisatawan, warga sekitar, bahkan berbagai komunitas yang berkumpul di berbagai titik favorit itu. Antusiasme yang ada ternyata tidak didukung dengan ketersediaan transportasi umum hingga malam hari. Sehingga banyak yang pada akhirnya memilih untuk membawa kendaraan pribadi.

Colt tidak bisa dijadikan angkutan malam di perkotaan karena dikhawatirkan akan semakin membuat lalu lintas semrawut

Colt tidak bisa dijadikan angkutan malam di perkotaan karena dikhawatirkan akan semakin membuat lalu lintas semrawut

Apabila melihat praktik riilnya, hanya Trans Jogja yang benar-benar beroperasi penuh sesuai jadwal yang sudah diatur. Bus kota tidak beroperasi penuh, sebab supir hanya menjalankan kendaraannya di saat jam-jam sibuk. Misalnya di pagi hari, siang hari ketika jam pulang sekolah, serta sore hari. Akibatnya, di luar waktu-waktu sibuk tersebut, mendapatkan bus kota menjadi cukup sulit. Hal seperti itu juga terjadi pada AKDP, namun karena cakupan wilayahnya yang sangat sempit, sehingga selama ini tidak terlalu dipermasalahkan.

Erwin Setiawan, pengurus Seksi Perkotaan Dishubkominfo DIY, mengatakan bahwa jam operasional angkutan umum memang terbatas. AKDP atau yang lebih dikenal dengan colt hanya beroperasi maksimal sampai pukul 17:00 WIB, senada dengan bus kota. Sedangkan untuk Trans Jogja, jam operasionalnya dibatasi hingga pukul 21:00 WIB. “Kalau yang 24 jam hanya tersedia taksi yang jumlah sebelumnya ada 800 unit, kemudian Dishubkominfo menambahnya menjadi 1.050 taksi,” kata Erwin.

loading...

Temuan tersebut menjadi paradoks, sebab Dinas Pariwisata DIY sendiri menargetkan supaya jumlah kunjungan wisata DIY pada 2015 naik 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Padahal salah satu faktor yang bisa mendukung terwujudnya target itu adalah keberadaan angkutan umum yang memadai dengan jam operasional yang ikut disesuaikan pula.

Lilik Wachid Budi Susilo, peneliti di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM, mengatakan bahwa saat ini DIY masih belum memiliki rencana yang jelas untuk menjadi tujuan wisata, utamanya wisata malam. Saat ini wisata siang dan malam hari di DIY sudah bisa dikatakan sama-sama ramai sehingga keduanya perlu diperhatikan.

“Sekarang Yogya juga masih belum punya kendaraan khusus untuk melayani wisata malam. Masyarakat jadi lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi, karena kalau tidak begitu mereka tidak bisa pulang. Tidak ada yang mengangkut,” kata Lilik.

Perkataan Lilik itu dibenarkan oleh Risa yang ditemui di kawasan Malioboro. Risa adalah warga Berbah, Sleman, yang memilih menggunakan kendaraan pribadi karena pada pukul 22:00 WIB Trans Jogja sudah tidak beroperasi, sedangkan tarif argometer taksi jika sampai ke rumahnya terlampau mahal.

Senada dengan Risa, Santi wisatawan Malioboro yang berasal dari Madiun lebih memilih untuk diantar oleh pamannya. “Awalnya ingin naik Trans Jogja dari daerah Jombor karena ada rute yang jelas. Tetapi karena paman bilang Trans Jogja tidak sampai malam, jadi akhirnya diantar. Nanti kalau sudah puas keliling baru minta jemput,” kata Santi.

Bus 1A terakhir yang sedang berhenti di Halte KR Jalan Solo untuk kemudian menuju halte Prambanan

Bus 1A terakhir yang sedang berhenti di Halte KR Jalan Solo untuk kemudian menuju halte Prambanan

loading...

About the author

Muhammad I. Anas (Aef)

Muhammad I. Anas (Aef)

Suka menulis dan menonton.
13/345981/SP/25595